Panduan Belajar Analisa Fundamental Saham Pemula

Apa Gunanya Analisis Fundamental?

Analisa fundamental adalah metode analisis berdasarkan kinerja keuangan perusahaan. Tujuannya untuk memastikan bahwa saham yang dibeli merupakan saham perusahaan yang berkinerja baik. Jadi kita tidak seperti membeli kucing dalam karung. Dengan mengetahui fundamental suatu saham akan membantu investor menghindari pembelian saham dari perusahaan yang tidak dapat menghasilkan laba atau rugi melulu.

Secara garis besar, dalam dunia saham ada 2 jenis analisa: fundamental dan teknikal. Simpelnya gini aja; analisis fundamental untuk menentukan saham APA yang mau kita beli, analisis teknikal untuk menentukan KAPAN harus masuk dan keluar pasar. Keduanya saling melengkapi.

fundamental-analysisAnalisis fundamental juga dipakai untuk menganalisa tingkat kewajaran harga suatu saham dengan membandingkan rasio keuangan tertentu dengan saham lainnya yang bergerak dalam bisnis yang sama. Ada banyak rasio finansial diluar sana, namun beberapa rasio penting yang wajib diketahui dalam metode analisis fundamental adalah Book value, Price to Book Value, Earning Per Share dan Price Earning ratio. Kita akan bahas satu per satu.

**Wajib Baca: Rahasia Sopir ini Taksi Raih Profit 177 Jt dari Bermain Saham

kisah sukses sopir

Book Value (BV)

Ini digunakan untuk mengetahui harga buku per lembar dari suatu saham yang diterbitkan. Book value per lembar saham yang diterbitkan pada dasarnya mewakili jumlah aset/ekuitas yang dimiliki perusahaan tersebut.

Cara menghitung

Book Value = Total ekuitas perusahaan / jumlah saham beredar

Oh ya, Ekuitas (modal bersih) = Total aset – total kewajiban

Biasanya book value suatu perusahaan akan terus naik seiring dengan naikknya kinerja perusahaan (kecuali jika ada penerbitan saham baru atau aksi korporasi lainnya). Oleh karena itu dengan melihat pertumbuhan book value suatu perusahaan sebenarnya sudah mewakili gambaran kinerja perusahaan tersebut.

Mengetahui book value dari suatu saham bukan saja penting untuk mengetahui kapasitas dari harga per lembar saham, tapi juga digunakan sebagai tolak ukur dalam menentukan wajar atau tidaknya harga saham di pasar (market value)

Misalkan perusahaan XYZ punya aset 500 miliar, hutang kewajiban 100 miliar, dan jumlah saham beredar adalah 200 juta lembar. Maka nilai buku dari perusahaan XYZ adalah 500-100 miliar/1 juta = Rp 2000. Bila PT. XYZ dijual maka secara teori pemegang saham mendapatkan minimal Rp 2000/ lembar saham yang dimilikinya.

Price to Book Value (PBV)

Rasio ini sebagai perbandingan antara harga saham di pasar dengan book value suatu saham. Untuk mengetahui apakah harganya mahal atau murah.

Cara menghitung Price to Book Value = Harga saham/Book value

Semakin rendah rasio PBV berarti harga saham bisa dianggap murah. Kebanyakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperjualbelikan jauh diatas nilai bukunya. Sangat jarang kita dapat menemukan saham yang diperjualbelikan dibawah nilai bukunya. Untuk BEI, biasanya saham blue chip diperdagangkan sebesar 4-5 kali nilai bukunya. Sebagai contoh, di awal tahun 2011 harga saham ASII diperdagangkan di level Rp.55.000 sedangkan nilai bukunya adalah 12.000. Jadi saham ASII diperdagangkan 4.58 kali dari nilai bukunya.

Memang tidak ada ukuran pasti mahal tidaknya suatu harga saham jika diukur dari ratio PBV nya karena relatif terhadap ekspektasi, dan kinerja perusahaan tersebut.

Perlu diingat, rasio ini hanya efektif jika digunakan untuk membandingkan saham-saham pada sektor ekonomi yang sama atau perusahaan yang bergerak di bidang yang sama.

Earning Per Share (EPS)

Rasio ini digunakan untuk menghitung laba (keuntungan bersih) yang diperoleh dari selembar saham.

Cara menghitung EPS = Laba / Jumlah saham beredar

Kegunaan dari metode ini adalah untuk mengukur kinerja perusahaan dalam menghasilkan laba. Dengan menghitung rasio EPS, investor dapat mengetahui keuntungan yang dihasilkan dari setiap lembar saham. Semakin besar EPS dapat disimpulkan bahwa kinerja perusahaan semakin efektif.

Price to Earning Ratio (PER)

Ini adalah rasio yang digunakan untuk menghitung tingkat pengembalian modal yang diinvestasikan pada suatu saham. Atau menghitung kemampuan suatu saham dalam menghasilkan laba.

Cara menghitung PER = Market value / EPS

Semakin kecil nilai PER semakin baik. Logikanya tingkat pengembalian investasi di saham tersebut akan semakin cepat karena EPS yang dihasilkan semakin besar.

Metode ini bisa juga dipakai untuk memperkirakan jangka waktu pengembalian modal investasi. Tapi tidak akurat sih, karena tidak memperhitungkan persentase dividen yang akan dibagikan perusahaan. Karena bisa persentase dividen yang dibagikan sangat kecil atau bahkan tidak sama sekali.

Tapi jika digunakan untuk mengukur efektivitas kinerja perusahaan, perhitungan PER ini cukup baik. Ini disebabkan semakin kecil PER nya berarti semakin efisien dan efektif kinerja perusahaan tersebut. Dengan kata lain, pemanfaatan aset perusahaan untuk memperoleh laba semakin maksimal.

Penerapan Metode Analisa Fundamental

Pada dasarnya metode analisis fundamental tersebut saling memiliki keterkaitan yang erat. Dengan begitu akan menjadi lebih akurat jika dalam melakukan penjualan/pembelian suatu saham, investor mengkombinasikan analisis ke 4 metode tersebut. Berdasarkan pengalaman, jika hanya menganalisis 1 atau 2 metode bisa mengakibatkan gambaran fundamental yang tidak utuh dan berpotensi merugikan investor.

Kita akan buat contoh perbandingan ke 4 indikator analisis fundamental tersebut pada saham sektor pertambangan.

analisa-fundamental

Seperti terlihat pada tabel diatas, sekilas harga saham INCO ( Rp. 45.500/lembar) adalah yang termahal di sektornya dan yang termurah adalah saham ENRG (Rp 640/lembar)

Tapi kalau kita menganalisis berdasarkan PBV, harga saham yang paling murah di sektor pertambangan adalah sahamMEDC dengan PBV 2,39x disusul oleh APEX pada posisi ke 2 dengan PBV 2,44x, lalu posisi ke3 ditempati INCO dengan PBV 3,39x. PBV ketiganya masih dibawah rata-rata PBV di sektornya.

Sedangkan yang termahal di sektor ini adalah saham BUMI dengan PBV 6,78x. Padahal jika melihat nominal harga pasar, harganya terlihat paling murah yaitu Rp 1.160/lembar. Demikian juga dengan saham ENRG yang terlihat paling murah hargana ternyata berdasarkan PBV harga sahamnya termasuk paling mahal (urutan ketiga) dengan PBV 4,89 dan telah melewati rata-rata PBV di sektornya.

Sekarang Apa?

Setelah mengetahui hal tersebut, kita sudah mempunyai dasar untuk menentukan harga suatu saham yang dikatakan mahal atau murah. Tugas kita selanjutnya adalah mencari, mengurutkan, merangking perusahaan atau saham yang memiliki kinerja paling baik. Ini karena bisa saja harga suatu saham murah tapi memiliki kinerja yang tidak baik.

Oh ya, pada kasus saham sektor pertambangan ini, umumnya perusahaan punya kinerja yang baik, tapi tidak ada salahnya untuk mencari yang terbaik.

EPS dan PER adalah cara untuk mengukur kinerja saham. Dari data yang ada di atas, EPS yang terbesar diduduki oleh saham INCO dengan nominal Rp 3072/lembar dan yang berada di urutan kedua adalah saham ANTM dengan nominal Rp 565/lembar. Berdasarkan ratio PER nya saham APEX berada diurutan pertama dengan rasio 11,63x, kedua BUMI 11,96x, urutan ketiga saham INCO dengan rasio 14,81x.

Dan inilah ranking rapot nya 🙂

ranking

Dari hasil peringkat tersebut, saham yang paling menguntungkan dan murah untuk dibeli adalah saham INCO. Karena dilihat dari segi nilai harganya relatif murah dan berkinerja baik. Artinya, dari ketiga indikator fundamental yang kita analisa, saham INCO memiliki peringkat terbaik, dan layak dijadikan pilihan investasi.

Peringkat atau perhitungan ini bisa berubah setiap saat, tergantung pada kecepatan pergerakan harga dari masing-masing saham. Saat dianalisis memang saham INCO yang lebih diutamakan untuk dibeli, tetapi bisa saja harga sahamnya ternyata bergerak lebih cepat dari saham pertambangan lainnya sehingga secara PBV harganya menjadi relatif mahal, dan PER nya menjadi besar (tanggal 26 April 2007 harga saham INCO sudah mencapai Rp 61.600)

Penggunaan metode ini tidak harus kaku, hanya digunakan untuk membeli saham yang berada di peringkat pertama. Kita dapat membeli saham lainnya yang juga memiliki hasil peringkat yang baik karena kadang-kadang pergerakan saham dalam jangka waktu pendek juga dipengaruhi oleh trend dan likuiditas masing-masing saham.

Analisa fundamental adalah hal yang wajib untuk diketahui tiap investor maupun trader yang serius berbisnis jual beli saham. Namun demikian analisa fundamental tidaklah komplit tanpa analisa teknikal. Sebab ada aspek analisa yang tidak bisa kita dapatkan dari fundamental ini.

Kelemahan analisa fundamental:

  • Tidak bisa memberikan gambaran tren yang sedang terjadi pada suatu saham (Kita perlu analisis teknikal). Oleh karena itu metode analisis fundamental lebih efektif jika digunakan untuk investasi saham dalam jangka panjang dengan mengabaikan fluktuasi pergerakan harga sahamnya dalam jangka pendek dan menengah.
  • Tidak bisa mengetahui secara teknikal apakah saham tersebut sedang turun (jenuh beli) atau naik (jenuh jual)

Keunggulan analisa fundamental:

  • Memberikan gambaran yang jelas mengenai bobot harga suatu saham
  • Investor mengetahui bahwa harga suatu saham murah/mahal, berkinerja baik/buruk, dan harganya berpotensi akan naik/turun
  • Mengetahui bahwa kualitas saham tersebut benar-benar baik/buruk. Tidak seperti membeli kucing dalam karung
  • Menghindari panic selling, memberi rasa nyaman dalam berinvestasi. Walaupun harga saham ‘digoyang/digoreng’ oleh investor besar untuk manipulasi penurunan harga saham tersebut. Anda tidak perlu khawatir karena memang perusahaan tersebut punya kualitas fundamental yang jelas dan bisnis perusahaan tersebut masih profitable. Disini anda tidak perlu khawatir dengan ulah nakal penggorengan harga saham tersebut.