Panduan Belajar Analisa Teknikal Saham Pemula

Di artikel sebelumnya, kita sudah ulas tentang analisa fundamental saham yang merupakan satu bagian penting yang harus diketahui tiap investor atau trader sebelum membeli saham sebuah perusahaan. Tujuan analisis fundamental agar kita tahu bahwa perusahaan itu memang menguntungkan dan layak untuk kita beli.

Tapi analisa fundamental tidak cukup. Kita harus tahu juga tentang analisa teknikal saham karena keduanya adalah pasangan sejoli, tidak bisa dipisahkan (baca: cara investasi saham disini). Saya akan coba jelaskan apa itu analisa teknikal secara gampang agar bisa dipahami oleh investor level pemula sekalipun. Kita akan ketahui juga tentang tujuan analisis teknikal, mengapa digunakan, kapan analisis ini digunakan, dan apa kelebihannya.

**Baca Juga: Rahasia Sopir Taksi RaihProfit 177 Jt dari Investasi Saham

kisah sukses sopir

Melakukan prediksi dengan analisis teknikal

**Beberapa indikator analisa teknikal yang sering saya pakai: Moving average, MACD, Stochastic oscillator, Volume MA, bollinger band. Saya akan jelaskan beberapa yang penting, karena tidak perlu tahu semuanya. Analisa yang ribet tidak selalu menjamin profit tinggi.**

 

Secara garis besar, dalam dunia saham ada 2 jenis analisa: fundamental dan teknikal. Simpelnya gini aja; analisis fundamental untuk menentukan saham APA yang mau kita beli, analisis teknikal untuk menentukan KAPAN harus masuk dan keluar pasar. Keduanya saling melengkapi.

Apa itu Analisis Teknikal?

Ini adalah metode analisa berdasarkan pergerakan harga saham sesuai dengan kemungkinan teknis dari historikal data statistik pergerakannya pada jangka waktu tertentu.

Simpelnya, analisa teknikal ini kita gunakan untuk memprediksi pergerakan saham berdasarkan pola harga yang ada (Mau itu bergerak ke atas atau kebawah). Oh ya, kita akan gunakan software analisa chartnexus untuk memahami histori harga dan pola yang kemungkinan berulangnya tinggi.

Prediksi Musim

Layaknya seperti memprediksi musim di Indonesia, kita tahu bahwa sekitar Desember akan banyak hujan. Kita tahu karena memang itu adalah pola berulang yang terjadi di negara kita. Jadi kita tahu, kalau misalkan bulan desember datang maka kita harus menyediakan jaket, payung, dst.

Seperti itulah analisa teknikal, kita coba lihat pola berulang yang kemungkinan untuk terjadinya tinggi. Sehingga kita bisa bersiaga, dan lebih siap untuk mengambil arah dalam berinvestasi atau trading saham. Apakah kita akan segera beli, jual, atau tahan dulu. Misalkan kita tahu bahwa trend harga saham akan naik, maka kita siapkan alokasi dana kita untuk beli saham yang bagus.

Bagaimana cara mengindentifikasi trend pergerakan harga saham?

Saya cenderung memakai 2 indikator yang simpel saja, semua software analisa saham punya fitur ini. MA (moving average atau kadang disebut simple moving average) dan MACD (Moving Average Convergence Divergence).

Di dunia investasi kedua indikator teknikal ini disebut sebagai lagging indicator (sinyal akhir). Yang artinya sinyal yang datang harus dihasilkan dari data harga sebelumnya, hanya prediksinya lebih lambat (sebenarnya semua indikator teknikal saham adalah lagging sih, karena semua data harus dihasilkan dari harga saham). Kita akan perjelas topik ini di lain artikel, dan tidak perlu di over-complicate kan tapi untuk sekarang ketahui saja bahwa kita akan memakai MA dan MACD untuk memahami trend harga saham di pasar.

Moving Average (MA)

Indikator yang paling simpel dan sangat mudah dipahami. Tujuannya untuk mengetahui rata-rata harga saham selama periode tertentu. Yup..itu saja. MA Sama seperti nilai rata-rata rapot sekolah 🙂

Yang jadi isu, periode nya itu berapa lama? Ini sangat relatif dan bergantung pada tingkat agresifitas dari tiap investor dan trader. Saya pribadi suka memakai MA 20 weekly, atau kadang MA 26 weekly. Karena ini adalah harga saham selama 20-26 minggu terakhir, atau harga saham sekitar selama setengah tahun terakhir.

Moving Average
Grafik Moving Average (warna merah). Di contoh ini saya pakai MA 20 weekly.

Garis Moving Average adalah yang warna merah. Disini bisa kita lihat jelas harga saham Aneka Tambang Persero (ANTM) sedang dalam trend menurun sekitar 20 mei 2015 sampai 20 november 2015. Lihat saja, candlestick nya semua dibawah garis merah Moving average. Itu menunjukkan tren negatif, menurun (bearish). Pada saat posisi ini, sebaiknya kita ya jangan berinvestasi. Gampang aja, karena harga saham yang kita beli akan terus turun dan kita rugi donk.

Habis gelap terbitlah terang. Setelah itu bisa kita lihat di tahun 2016, sekitar 20 februari-20 agustus trend harga saham meningkat drastis, pola yang positif (bullish). Disinilah kita harus bersiaga untuk membeli saham, karena prediksi harga saham akan terus naik.

Waktu masuk yang tepat untuk beli kapan?

Kita mau masuk pada timing yang tepat. Tidak terlalu awal, dan tidak ketinggalan (saat harga sudah meroket). Kita wait and see, istilah kerennya probe the market. Terutama disekitar awal 2016 kita harus selalu bersiap untuk MASUK BELI, saat harga saham memotong ke-atas garis MA. Lalu saat harga saham memotong ke-bawah garis MA maka disitulah kita bersiap untuk KELUAR JUAL. Gampang bukan?

Kita juga bisa lihat indikator lain seperti volume transaksi, kalau positif berarti banyak yang beli dan trend memang sedang HOT dan positif. Itu bisa mengkonfirmasi keputusan kita untuk bergerak masuk market.

Moving Average Convergence Divergence (MACD)

MACD ini fungsinya hampir sama dengan MA. Yaitu untuk melihat trend pasar. Saya pakai MACD dan MA secara berdampingan untuk memastikan kondisi market. Keduanya akurat, juga simpel dan gampang dipahami. (Kalau anda mau penjelasan ilmiah resmi tentang MACD silahkan gugling yah, karena saya akan menjelaskan versi simpelnya agar bisa dipahami pemula sekalipun)

sdfds
Indikator MACD (warna biru)

Ingat! MACD itu untuk mengetahui trend market. Saat garis MACD yang warna biru memotong kebawah garis signal warna merah disitulah trend menurun, negatif bearish terjadi (lihat lingkaran biru pertama). Berarti kita jangan beli saham? Yup. Jangan, karena anda akan rugi. Di contoh itu Tahun 2015 bulan Mei – Oktober harga saham Bank Mandiri (BMRI) turun drastis dari sekitar Rp 10.000- Rp 7.800. Jangan membeli saham bank mandiri pada saat ini.

Tren Positif – Bullish – Masuk dan Beli

Di saat garis biru MACD memotong ke atas garis merah maka disinilah timing yang tepat untuk membeli saham BMRI karena musim sedang positif dan menguntungkan kita. Harga bahkan naik dari sekitar Rp 7800-10100. Keuntungan yang cukup signifikan. Dan bahkan sampai artikel ini dibuat, 21 oktober 2016. Saham BMRI masih naik. Dan kita hanya tinggal menunggu sinyal jual yang tepat saja. Kita bisa pakai bantuan sinyal dari indikator MA.

Volume Transaksi

Saat harga saham mendatar dan ingin mendekati garis MA disitulah biasanya awal trend positif bullish terjadi. Kita bisa konfirmasi dengan melihat volume transaksi saham yang terjadi saat itu dengan melihat sinyal indikator volume.

analisa-teknikal-saham-4-volume
Indikator teknikal Volume

Kita bisa lihat disekitar pemotongan harga saham kearah ATAS garis MA (yang menunjukkan trend positif), banyak bar warna hijau (artinya selisih volume pembelian terhadap penjualan positif). Itu menunjukkan bahwa reaksi pasar memang sedang positif terhadap saham ANTM dan banyak yang membeli saham ANTM. Disinilah momen awal trend positif saham tersebut (sekitar desember 2015 – Februari 2016). Bahkan sampai akhir April harganya sudah naik lebih dari 100% dari 330 ke 750.

Stochastic

Ini adalah sinyal indikator teknikal yang coba menerjemahkan apakah saham sedang overbought (jenuh beli, terlalu banyak dibeli) atau oversold (jenuhjual, terlalu banyak dijual). Sinyal dari stochastic ini sebaiknya kita gunakan setelah kita mengetahui trend besar arah pergerakan pasar menggunakan MA atau MACD terlebih dahulu. Lalu kita kombinasikan dengan stochastic untuk tahu momen masuk yang pas.

analisa-teknikal-saham-3-stochastic-oscillator

Daerah sekitar referensi garis atas (80%) disebut area overbought. Daerah sekitar referensi garis bawah (20%) disebut  area oversold. Pada saat mencapai area overbought kita bisa menjual saham, dan saat sinyal menenjukkan oversold, disinilah kita membeli saham.

Untuk penggunaan stochastic sedikit tricky, karena pada saat trend bulish/positif/menaik maka banyak orang yang akan membeli saham tersebut, dan sinyal akan menunjukkan overbought/jenuh beli. Tapi bukan berarti kita harus menjual saham yah. Untuk stochastic, saya hanya akan mengikuti sinyal belinya saja jika pasar sedang positif/bullish. Dan mengikuti sinyal jualnya saja jika pasar sedang negatif/bearish.

Seperti yang kita bahas sebelumnya, lebih baik kita ikuti pergerakan trend pasar dengan MA atau MACD agar kita tidak terburu-buru keluar market dan kehilangan momentum.

Kesimpulan:

  • Analisa teknikal itu penting untuk memprediksi pergerakan harga berdasarkan pola harga sebelumnya
  • Tidak ada 1 indikator teknikal pun yang punya jaminan akurasi 100% memprediksi pergerakan pasar. Karena pasar kadang tidak rasional.
  • Selalu kombinasikan dengan analisa fundamental
  • Ketahui terlebih dahulu trend besar pasar (musim). Dengan MA atau MACD