Home

6 Rasio penting Analisis Fundamental

Apa saja rasio penting analisa fundamental?

GRATIS!! Silakan Coba Simulasi Trading Saham IHSG ini


Nah rasio ini dibagi menjadi 6 kelompok. Sebenarnya juga sudah pernah saya cover sebelumnya pada artikel ini dimana saya berikan tabelnya dan juga penjelasannya. Namun mungkin cuma 4 elemen saja yang tertulis. Jadi kali ini akan saya share lebih lagi.

  1. EPS (Earning Per Share)
  2. PER (Price to earning ratio)
  3. PBV (Price to book value)
  4. ROE (Return on equity)
  5. DER (Debt to equity ratio)
  6. DY (Dividend yield)

Ok kita bahas satu per satu:

EPS (Earning per share)

Ini adalah laba bersih per saham. Misalnya kita menemukan saham dengan EPS sebesar Rp 100. Maka artinya setiap lembar saham memberikan hasil sebesar Rp 100.

EPS yang selalu bertumbuh artinya perusahaan bertumbuh dengan baik sehingga kemungkinan besar penjualan dan laba akan naik. Sebaliknya jika angka EPS dari tahun ke tahun menurun, maka anda waspada karena kita harus curiga kenapa laba nya turun. Dan sebagai investor yang cerdas, maka anda akan hindari membeli saham dari perusahaan yang EPSnya turun.

Cth EPS yang bagus:

Bumi Serpong Damai Tbk atau BSDE kita bisa lihat EPS nya lumayan bagus. Grafiknya meningkat stabil, seperti anak tangga. Itu artinya kita mengetahui bahwa perusahaan yang dikelola betul2 profesional dan ini adalah kandidat yang cocok untuk kita beli.

PER (Price to Earning Ratio)

Ini adalah lama waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan modal yang dipakai untuk membeli saham. Rumus dari PER adalah Harga Pasar Saham dibagi Laba per saham.

Misal saham seharga Rp100 dengan EPS sebesar Rp 20 maka PER nya adalah 5 kali. Artinya jika laba perusahaan tidak bertumbuh alias tetap Rp 20 per tahun. Kita butuh 5 tahun untuk balik modal.

Semakin rendah PER semakin baik, karena biasanya angka PER yang rendah berarti kembali modalnya lebih cepat.

PBV (Price to Book Value)

Ini adalah rasio yang digunakan untuk membandingkan harga saham dengan nilai perusahaan berdasarkan asset bersihnya. Rumusnya adalah: Harga pasar saham dibagi Nilai buku per lembar saham.

Baca: 3 Indikator Terbaik Ketika Memilih Saham Perusahaan


PBV sebesar 2 kali artinya harga saham sudah tumbuh menjadi 2x lipat dibandingkan nilai assetnya. Investor umumnya mencari saham yang PBV nya dibawah nilai harga sahamnya dimana adanya margin keamanan dimana harga assetnya lebih tinggi daripada harga sahamnya.

Baca juga: Cara Sopir Taxi ini profit Rp 177 juta dari saham.


ROE (Return on Equity)

ROE menggambarkan kemampuan modal sendiri (ekuitas) yang dimiliki perusahaan dalam menghasilkan laba bersih.

ROE sebesar 10% artinya Rp 100 modal sendiri yang di perusahaan bisa memberikan Rp 10. Kita dapat menggunakan ROE dengan membandingkan perusahaan sejenis pada 1 industri yang sama dari tahun ke tahun agar mendapatkan hasil yang lebih akurat.

DER – (Debt to Equity Ratio)

DER menunjukkan rasio hutang perusahaan terhadap modal yang dimiliki perusahaan.

DER < 1 artinya perusahaan punya utang lebih sedikit daripada modalnya.

DER > 1 artinya perusahaan punya utang yang lebih besar.

Sebaiknya kita pilih perusahaan yang punya utang sedikit, karena akan mengurangi biaya (beban bunga perusahaan). Namun bukan berarti utang itu adalah hal yang buruk. Selama perusahaan bisa mengarahkannya ke utang produktif untuk berkembang, itu baik. Asalkan pertumbuhannya terkontrol.

DY – Dividend Yield

Ini adalah bagian dari para investor yang mencari keuntungan lewat dividen, yaitu dengan mencari perusahaan yang memberikan yield cukup besar. Namun tidak semua perusahaan membagikan dividen, biasanya digunakan untuk kegiatan ekspansif. DY ini dihitung dengan cara membagi dividen per lembar saham dengan harga pasar sahamnya.

Ok sekian aja tutorial singkatnya hari ini, kalau teman-teman mau baca artikel seputar saham lainnya silahkan baca tulisan yang sudah saya publish sebelumnya dan juga jangan lupa join facebook groupnya biar rame 🙂